KIM Sumberarum

  • Home
  • Profil
  • Kegiatan
  • Galeri
  • Download
  • Kontak
  • Destika
Home » Nyadran (Manganan) » Nyadran (Manganan) Wujud Dari Menjaga Kearifan Lokal

Rabu, 14 Mei 2014

Nyadran (Manganan) Wujud Dari Menjaga Kearifan Lokal

Salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat desa Sumberarum Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro adalah "Nyadran" (biasa disebut manganan). Sebuah bentuk wujud syukur Kepada Sang Pencipta Alam Semesta atas anugerah yang telah diberikan.
   
Bila dilihat dari kamus Inggris - Indonesia, maka pengertian kearifan lokal terdiri dari 2 kata, yaitu kearifan (wisdom) dan lokal (local). Local yang berarti setempat, sementara wisdom sama dengan kebijaksanaan. Dengan demikian maka dapat dipahami, bahwa pengertian kearifan lokal merupakan gagasan-gagasan atau nilai-nilai, pandangan-padangan setempat atau (lokal) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Salah satu bentuk kearifan lokal yang selama ini berkembang berabad-abad di masyarakat Jawa adalah budaya Nyadran (Manganan). Akan pentingnya menjaga kearifan lokal warisan para leluhur.

Manusia dan alam merupakan satu kesatuan. Hubungan dua elemen itu, seakan tak bisa lepas satu sama lain. Hubungan simbiosis keduanya pun menjadi keniscayaan. Namun, dalam perkembangan manusia modern, alam seakan menjadi objek untuk meneguhkan dan meneruskan kehidupan manusia. Alam yang rusak, sampah dimana-mana, berimplikasi kepada banyaknya bencana alam yang memakan banyak korban jiwa. Disinilah diperlukan kesadaran ekologis manusia untuk paham dengan alam. Manusia yang secara sadar peduli dengan alam. Yang menarik adalah, masyarakat kita, dahulu begitu menghargai alam. Hal ini terbukti dengan adanya ritual Nyadran, sebagai bentuk atau wujud penghormatan manusia terhadap alam.

Adapun prosesi Nyadran (Manganan) ini diadakan pada setiap hari jum'at pahing pada bulan Ba'da Mulud (bulan jawa). Dari mulai siang hari setalah shalat jum'at mengadakan sebuah ritual (syukuran). Adapun masyarakat desa Sumberarum berbondong-bondong membawa tumpeng masing-masing ke sebuah tempat yang disakralkan, dan dianggap oleh masyarakat sekitar sebagai punden (cikal bakal desa sumberarum). Prosesi ritual dipimpin oleh sesepuh desa. 
   
Prosesi Nyadran (manganan) meliputi berbagai tahap, diantaranya: Menaruh sesaji dan dido'akan,Kaul (sebut saja sebagai nazar). Kaul (nazar) ini diucapkan pada saat acara langgam tayub dan konon segala apa yang diucapkan akan terkabulkan, setelah itu dilanjutkan dengan hiburan langgam tayub dan dilanjutkan malam hari setelah shalat Isya' di rumah Kepala Desa. Kebetulan pada waktu itu dihadiri oleh Bupati Bojonegoro Kang Yoto beserta wakil dan stafnya.
   
Prosesi Nyadran (Manganan) merupakan warisan nenek moyang turun temurun, yang sampai saat ini masih dilestarikan oleh masyarakat desa Sumberarum.
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Unknown
00.00

2 komentar untuk "Nyadran (Manganan) Wujud Dari Menjaga Kearifan Lokal"

Unknown mengatakan...

Wah pasti ini Guwo Sumur Le.

10 Oktober 2015 pukul 08.39
Unknown mengatakan...

Wah pasti ini manganan Guwo Sumur Le Yo?

10 Oktober 2015 pukul 08.40

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)
Find Us :

Entri Populer

Copyright 2013 KIM Sumberarum - All Rights Reserved